Menerawang Singkawang: Cap Go Meh Tak Dianggap Remeh!

“Mama, sin cia ju ie!” ucapku seraya berlari kecil ke arah Mama yang sudah rapi dengan gaun baru berwarna merah menyala.

Hasil gambar untuk angpao vector
sumber: stockunlimited.com

Kalimat tersebut menjadi hal yang wajib dilontarkan saat berjumpa dengan orang lain pada tahun baru imlek, diucapkan oleh yang lebih muda kepada yang dituakan. Usai menyapa, biasanya orang yang lebih tua akan membalas dengan sebutan “tang tang ju ie,” disertai kegiatan memberi angpao—hal yang paling saya tunggu-tunggu dari kecil selain baju baru dan kue-kue enak, tentunya.

Terlahir sebagai etnis Tionghoa di Kota Pontianak membuat saya sangat kental dengan perayaan imlek setiap tahun. Kegiatan penyambutan tahun baru imlek biasanya sudah dimulai sehari sebelumnya, ditandai dengan dentuman kembang api dan petasan. Masyarakat kerap berkumpul di jalan, menikmati pergantian tahun bersama keluarga, sahabat, hingga kekasih. Kalau yang masih jomblo seperti saya, ya lebih betah di rumah, haha…

Ada awal, ada pula akhir. Hari pertama imlek biasanya diisi dengan berkunjung ke rumah yang dituakan, misalnya kakek dan nenek. Serunya, seluruh anggota keluarga besar akan berkumpul dan jadilah satu rumah dipadati dari ruang tamu hingga ke dapur sekalipun. Orang tua sibuk berbincang, anak-anak sibuk berlarian ke sana kemari. Hari kedua dilanjutkan dengan mengunjungi rumah kerabat dan kenalan yang lain, begitu seterusnya hingga hari-hari berlalu, kue-kuean habis, dan dompet menipis (catat: berlaku untuk orang tua, kalau yang masih remaja seperti saya sih malah ketiban angpao).

Hasil gambar untuk chinese new year
sumber: chinesenewyear.net

Imlek berlangsung hingga lima belas hari. Biasanya, penutupan imlek justru jauh lebih meriah dari pembukaannya sendiri. Melalui perayaan Cap Go Meh (dalam dialek Hokkien berarti malam kelima belas), kita bisa menonton barongsai, naga, tatung, hingga berbagai perayaan khas Tionghoa lainnya.

Setiap tahun Cap Go Meh tiba, saya dan keluarga selalu menyempatkan diri berkunjung ke kota yang paling terkenal dengan perayaan Cap Go Meh-nya, yakni Kota Singkawang, Kalimantan Barat. Letaknya yang berjarak sekitar 150 km dari kota tempat tinggal saya, Pontianak, dapat ditempuh dalam waktu sekitar 4 jam melalui jalur darat. Namun, untuk teman-teman yang tidak menggunakan kendaraan pribadi, ada alternatif transportasi seperti bus Damri yang nyaman dan cukup terjangkau dari segi harga.

Festival Cap Go Meh Singkawang memang bisa dikatakan paling unik dan meriah jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Indonesia. Perayaannya bahkan telah dimasukkan dalam kalender wisata nasional. Setiap tahunnya, ada saja hal unik yang disajikan, seperti lampion terbanyak (2009), kue keranjang raksasa (2010), lampion terbesar (2011), replika tembok China terbesar (2012), serta masih banyak lagi, dan yang terbaru ialah replika singa raksasa terbesar yang berukuran sekitar 8,8 meter.

Tahun ini, rangkaian kegiatan Cap Go Meh dilaksanakan sejak 3 Februari 2019 hingga 20 Februari 2019. Namun, puncaknya sendiri jatuh pada 19 Februari 2019. Berbagai keseruan didapatkan kala menikmati Wisata Kota Singkawang.

Berlangsung meriah, ternyata Festival Cap Go Meh Singkawang tahun ini dihadiri oleh lebih dari 76.000 wisatawan baik dari dalam hingga luar negeri, loh! Lantas, apa saja sih yang disajikan dalam festivalnya tahun ini?

PEMBUKAAN YANG TAK BUAT BOSAN

Pembukaan Cap Go Meh di Singkawang sendiri dimulai pada 3 Februari 2019 dengan atraksi barongsai, tarian kreasi NKRI dari Sanggar Simpur, hingga pemukulan gendang yang diikuti dengan penyingkapan replika singa yang ditutup dengan kain merah. Tidak hanya itu, ada juga pesta kembang api yang meriah.

 

PENSI YANG PENUH ADIKSI DAN MAHAKARYA BUDAYA

Sepanjang tanggal 4-20 Februari 2019, pengunjung disuguhi pentas seni dan budaya disertai expo yang tidak kunjung berhenti. Mata para pengunjung tak lepas menatap berbagai suguhan di pentas seni tersebut. Berlokasi di Lapangan Kridasana, kita juga bisa melihat berbagai produk khas Singkawang mulai dari makanan hingga pernak-pernik yang tertata manis meminta dibawa pulang. Para pelancong dapat berpuas diri mengunjungi sekitar 80 stand Expo Cap Go Meh yang menyajikan beragam produk UMKM khas Singkawang.

 

RITUAL BUKA MATA NAGA YANG TAK TERDUGA

Perayaan Cap Go Meh tidak lengkap tanpa adanya ritual buka mata naga. Bagi sobat yang belum tahu, ritual ini selalu diadakan setiap imlek. Tujuan dari ritual ini sendiri yakni untuk mengusir roh jahat dan menangkal hal-hal negatif. Dilaksanakan pada 17 Februari 2019 di Kelenteng Tridharma Bumi Raya, ritual ini menampilkan 12 buah replika naga yang didesain begitu cantik dan menarik. Bahkan, ada replika naga yang panjangnya mencapai 105 meter. Saya tak habis pikir betapa rumitnya membuat naga super panjang.

 

MENATAP LAMPION DI UJUNG HORIZON

Usai ritual buka mata dilakukan, kemeriahan berlanjut dengan pawai lampion yang digelar di malam hari. Pada tahun 2019 ini, pawai lampion unjuk gigi dengan keberhasilannya menorehkan prestasi rekor MURI. Hal ini dikarenakan Singkawang berhasil menghadirkan 20.067 buah lampion yang bersinar indah.

Suasana pada malam hari

 

ATRAKSI TATUNG YANG BUAT KITA MEMATUNG

Keesokan harinya, pada 18 Februari 2019, acara dilanjutkan dengan prosesi ritual tolak bala yang dilakukan oleh tatung dan ritual sembahyang Dewa Langit (Ket Sam Thoi). Kemudian, acara puncak berlangsung pada 19 Februari 2019, di mana para turis disuguhi atraksi tatung yang fantastis. Siapa yang belum tahu apa itu tatung? Sembari mengenakan kostum tradisional, mereka beratraksi dengan berbagai senjata tajam menembus kulit.

Menonton tatung itu bisa dibilang ngeri-ngeri sedap. Kita dibuat terkagum-kagum dengan tatung yang dipercaya telah dirasuki roh halus sehingga kebal terhadap benda tajam seperti kawat besi, paku, hingga pisau. Mereka tampak adem ayem saat melakukan atraksi ini, tidak kesakitan maupun terluka. Jauh berbeda dari kita yang ditusuk jarum saja bisa menjerit kaget.

Setidaknya, ada sekitar lebih dari 1000 tatung yang berpartisipasi menunjukkan kebolehannya. Tatungnya saja ada seribu, penontonnya mencapai puluhan ribu. Bahkan, ada beberapa warga negara asing juga loh, yang menonton atraksi ini. Mereka mematung takjub melihat tatung.

 

WISATA KULINER YANG BIKIN NGILER

Bagi siapa pun yang memasukkan kuliner dalam daftar wajib saat berwisata boleh berbahagia karena Singkawang turut dimeriahkan dengan beragam stand makanan yang membuat lidah bergoyang. Sebut saja kue keranjang, pengkang, serta berbagai jajanan tradisional hingga makanan berat.

Kuliner yang ada di Singkawang sendiri tercampur antara budaya Tionghoa serta Melayu sehingga terdapat banyak masakan dengan cita rasa unik. Contoh menu populer di Singkawang yang wajib dicoba yakni choi pan atau chai kue dan bubur gunting.

Hasil gambar untuk chaikueChoi pan atau chai kue yang berupa gorengan atau kukusan tepung beras berisi bengkuang dan udang kering. Ada pula pilihan isian lain seperti keladi. Makanan yang satu ini halal, jadi bagi umat Muslim bisa mencicipinya tanpa ragu.

 

Penasaran dengan bubur gunting? Bukan bubur yang ditaruh gunting, ya. Namun, bubur ini mengandung biji kedelai yang sudah direndam dalam kuah kental manis bersama potongan cakwe.

SINGA RAKSASA YANG LUAR BIASA

Keseriusan pemerintah Singkawang dalam menyelenggarakan Cap Go Meh terlihat dari keunikannya setiap tahun. Giliran singa raksasa yang unjuk gigi tahun ini. buktinya, pada 2019 ini Singkawang berhasil memecahkan rekor MURI dengan menghadirkan replika sepasang singa raksasa besar yang berukuran sekitar 8,8 meter. Kerennya lagi, proses pembuatan replika singa ini juga ditangani oleh seniman lokal penyandang disabilitas. Salut!

 

ASTAGA, KOK TEGA BAKAR NAGA?

Menjelang hari terakhir penutupan, yakni pada 19 Februari 2019, dilaksanakanlah ritual bakar naga di Vihara Budhayana. Iya, sobat tidak salah baca. Replika naga yang sebelumnya telah diarak di kota dan dipamerkan keindahannya ternyata dibakar dengan tujuan mengirim makhluk kayangan kembali ke langit setelah sebelumnya dipanggil dan merasuki replika naga. Rasanya tak tega melihat replika naga terlalap oleh ganasnya api, namun itulah makna dari suatu tradisi.

 

Perayaan Tahun Baru Imlek 2570 resmi ditutup pada 20 Februari 2019. Saya sekeluarga berpuas-puas menikmati kemeriahan sekaligus keceriaan Kota Singkawang dalam menyambut hari raya ini. Selama berada di Singkawang sendiri, kami tidak dipusingkan dengan urusan penginapan dan tetek-bengek lainnya. Bagi sobat yang berencana berkunjung ke kota yang dinobatkan sebagai kota paling toleran di Indonesia ini, sobat bisa menemukan puluhan hotel, baik yang murah meriah hingga hotel berbintang. Akses jalannya yang sudah bagus dan mudah pun membuat liburan menjadi nyaman.

Pemerintah Singkawang tampaknya memang serius menggarap Kota Singkawang sebagai pusat perayaan Hari Raya Imlek dan Cap Go Meh, tak menganggap remeh hari raya umat Tionghoa ini. Perayaan Cap Go Meh tidak hanya menjadi cara melestarikan budaya Tionghoa, namun juga sebagai simbol toleransi, dibuktikan dengan acara yang juga dihiasi dengan pagelaran budaya berbagai etnis. Sungguh patut diacungi jempol. Jadi, bagaimana? Tertarik mengunjungi Singkawang?

 

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis Blog “Generasi Pesona Indonesia Kota Singkawang 2019” yang diselenggarakan oleh Generasi Pesona Indonesia Kota Singkawang

lomba blog genpi singkawang

Comment Please ! ~

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s